Hijrah mudah istiqamah
* ﷽*
Hijrah? Mudah. Istiqomah yang Susah.
Benar memang. Ada fase di mana semua rasa ingin tahu, ingin berubah, ingin mengenalNya lebih jauh itu luntur. Samar. Tak berbentuk lagi.
Benar memang, ada saat di mana semua semangat itu lambat laun memudar. Terkalahkan dengan hal yang jauh lebih memuaskan hati. Termasuk pandangan manusia dengan apa yang kita lakukan.
Aku tahu susahnya melawan hawa nafsu. Meluruskan niat yang kadang bercabang, berliku, tak pernah melulu lurus. Aku, paham betul rasanya berjuang untuk tetap tegak dalam arus yang berbeda di zaman yang sedang berkembang.
Aku, pernah merasakan ingin kembali—ke masa lalu. Ke masa di mana semua temanku masih berdampingan denganku. Masa sebelum kerudung yang kupakai sepanjang dan selebar ini. Masa di mana aku tak mempedulikan batas auratku yang sesungguhnya. Juga tak mau tahu tentang syari’at yang diwajibkan atas setiap muslimah yang telah beranjak dewasa.
Beruntunglah, manusia bebal sepertiku tidak benar-benar terseret oleh bayang semu tentang indahnya dunia yang tak kekal adanya.
Terlampau bebal memang manusia sepertiku. Diberikan kenikmatan berupa hidup yang meski tak berlebih tapi masih cukup pun tetap saja tak tahu diri.
Apa yang dimintaNya tak aku hiraukan. Apa yang diwajibkannya mana kupedulikan. Allahurabbi, pantaskah aku menginjak bumi yang Kau ciptakan ini?
Hijrah. Bukan tentang seseorang yang berubah lalu menjadi malaikat. Hijrah adalah tentang seorang hamba yang ingin taat.
Hijrah adalah tentang bagaimana merangkak, berjalan lalu akhirnya berlari menuju ridhaNya. Bukan seberapa cepat, tapi seberapa kuat ia bertahan.
Sekali lagi, hijrah itu proses. Bagaimana kita bisa menuju puncak jika kita tak mendaki? Begitu pula, bagaimana kita bisa berjilbab sesuai syariat kalau kita tak memulai?
Tak ada yang perlu diragukan. Orang tua yang tak merestui? Takut jodoh tak ada? Hidupmu terasa jauh tertinggal? Ah, payah. Setiap bahagia butuh perjuangan.
Hijrah? Mudah. Istiqomah yang Susah.
Benar memang. Ada fase di mana semua rasa ingin tahu, ingin berubah, ingin mengenalNya lebih jauh itu luntur. Samar. Tak berbentuk lagi.
Benar memang, ada saat di mana semua semangat itu lambat laun memudar. Terkalahkan dengan hal yang jauh lebih memuaskan hati. Termasuk pandangan manusia dengan apa yang kita lakukan.
Aku tahu susahnya melawan hawa nafsu. Meluruskan niat yang kadang bercabang, berliku, tak pernah melulu lurus. Aku, paham betul rasanya berjuang untuk tetap tegak dalam arus yang berbeda di zaman yang sedang berkembang.
Aku, pernah merasakan ingin kembali—ke masa lalu. Ke masa di mana semua temanku masih berdampingan denganku. Masa sebelum kerudung yang kupakai sepanjang dan selebar ini. Masa di mana aku tak mempedulikan batas auratku yang sesungguhnya. Juga tak mau tahu tentang syari’at yang diwajibkan atas setiap muslimah yang telah beranjak dewasa.
Beruntunglah, manusia bebal sepertiku tidak benar-benar terseret oleh bayang semu tentang indahnya dunia yang tak kekal adanya.
Terlampau bebal memang manusia sepertiku. Diberikan kenikmatan berupa hidup yang meski tak berlebih tapi masih cukup pun tetap saja tak tahu diri.
Apa yang dimintaNya tak aku hiraukan. Apa yang diwajibkannya mana kupedulikan. Allahurabbi, pantaskah aku menginjak bumi yang Kau ciptakan ini?
Hijrah. Bukan tentang seseorang yang berubah lalu menjadi malaikat. Hijrah adalah tentang seorang hamba yang ingin taat.
Hijrah adalah tentang bagaimana merangkak, berjalan lalu akhirnya berlari menuju ridhaNya. Bukan seberapa cepat, tapi seberapa kuat ia bertahan.
Sekali lagi, hijrah itu proses. Bagaimana kita bisa menuju puncak jika kita tak mendaki? Begitu pula, bagaimana kita bisa berjilbab sesuai syariat kalau kita tak memulai?
Tak ada yang perlu diragukan. Orang tua yang tak merestui? Takut jodoh tak ada? Hidupmu terasa jauh tertinggal? Ah, payah. Setiap bahagia butuh perjuangan.
Komentar
Posting Komentar