Tahajud minta dibangunin ?
Motivasi Hijrah Indonesia
TAHAJUDCALL*
ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺑَﺮَﻛَﺎﺗُﻪُ .
ﺑِﺴْـﻢِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢ
*BERGESER DARI TEMPAT SHOLAT WAJIB UNTUK SHOLAT SUNNAH*
*Pertama, Allah berfirman tentang Firaun dan kaumnya yang dibinasakan*,
ﻓَﻤَﺎ ﺑَﻜَﺖْ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢُ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀُ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽُ ﻭَﻣَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻣُﻨْﻈَﺮِﻳﻦَ
“Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi tangguh.”
*(QS. Ad-Dukhan: 29)*
*Ibnu Abbas* menafsirkan bahwa ketika seorang mukmin meninggal dunia, maka bumi yang dulu pernah dijadikan sebagai tempat ibadah, menangisinya.
Langit yang dulu dilalui untuk naiknya amal yang dia lakukan, juga menangisinya.
Semantara kaumnya Firaun, karena mereka tidak memiliki amal saleh, dan tidak ada amalnya yang naik ke langit, bumi dan langit tidak menangisinya karena merasa kehilangan darinya.
*(Tafsir Ibn Katsir, 7:254)*
ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﺗُﺤَﺪِّﺙُ ﺃَﺧْﺒَﺎﺭَﻫَﺎ
“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”
*(QS. Az-Zalzalah: 4)*
*Sebagaimana yang diisyaratkan oleh asy-Syaukani dalam Nailul Authar*
Beliau menyatakan:
ﻭﺍﻟﻌﻠﺔ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺗﻜﺜﻴﺮ ﻣﻮﺍﺿﻊ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭﺍﻟﺒﻐﻮﻱ ﻷﻥ ﻣﻮﺍﺿﻊ ﺍﻟﺴﺠﻮﺩ ﺗﺸﻬﺪ ﻟﻪ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ( ﻳﻮﻣﺌﺬ ﺗﺤﺪﺙ ﺃﺧﺒﺎﺭﻫﺎ ) ﺃﻱ ﺗﺨﺒﺮ ﺑﻤﺎ ﻋﻤﻞ ﻋﻠﻴﻬﺎ
*Alasan dianjurkannya pindah tempat ketika shalat sunah adalah memperbanyak tempat pelaksanaan ibadah*
Sebagaimana yang dinyatakan oleh *Bukhari dan al-Baghawi*
Karena tempat yang digunakan untuk sujud, akan menjadi saksi baginya, sebagaimana Allah berfirman,
ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﺗُﺤَﺪِّﺙُ ﺃَﺧْﺒَﺎﺭَﻫَﺎ
“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”
Maksudnya adalah mengabarkan semua amalan yang dilakukan di atas bumi. *(Nailul Authar, 3:235)*
*Kedua, hadis dari Nafi bin Jubair*, bahwa beliau pernah shalat jumat bersama Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma.
Setelah salam, Nafi bin Jubair langsung melaksanakan shalat sunah.
Setelah selesai shalat, Muawiyah mengingatkan:
ﻟَﺎ ﺗَﻌُﺪْ ﻟِﻤَﺎ ﺻَﻨَﻌْﺖَ، ﺇِﺫَﺍ ﺻَﻠَّﻴْﺖَ ﺍﻟْﺠُﻤُﻌَﺔَ، ﻓَﻠَﺎ ﺗَﺼِﻠْﻬَﺎ ﺑِﺼَﻠَﺎﺓٍ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﻜَﻠَّﻢَ، ﺃَﻭْ ﺗَﺨْﺮُﺝَ، ﻓَﺈِﻥَّ ﻧَﺒِﻲَّ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﻣَﺮَ ﺑِﺬَﻟِﻚَ، ﺃَﻥْ « ﻟَﺎ ﺗُﻮﺻَﻞَ ﺻَﻠَﺎﺓٌ ﺑِﺼَﻠَﺎﺓٍ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺘَﻜَﻠَّﻢَ ﺃَﻭْ ﻳَﺨْﺮُﺝَ »
“Jangan kau ulangi perbuatan tadi.
Jika kamu selesai shalat Jumat, jangan disambung dengan shalat yang lainnya, sampai berbicara atau keluar masjid. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan hal itu.
Beliau bersabda:
*Jangan kalian sambung shalat wajib dengan shalat sunah, sampai kalian bicara atau keluar*.”
*(HR. Muslim 883, Abu Daud 1129)*
*Termasuk cakupan makna bicara dalam hadis ini adalah berdzikir setelah shalat*.
*Ketiga, hadis dari Abu Hurairah* radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ﺃَﻳَﻌْﺠِﺰُ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻘَﺪَّﻡَ، ﺃَﻭْ ﻳَﺘَﺄَﺧَّﺮَ، ﺃَﻭْ ﻋَﻦْ ﻳَﻤِﻴﻨِﻪِ، ﺃَﻭْ ﻋَﻦْ ﺷِﻤَﺎﻟِﻪِ ﻓِﻲ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ، ﻳَﻌْﻨِﻲ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴُّﺒْﺤَﺔِ
“Apakah kalian kesulitan untuk maju atau mundur, atau geser ke kanan atau ke kiri ketika shalat.” Maksud beliau: “shalat sunah”.
*(HR. Abu Daud 1006, Ibn Majah 1427, Ibn Abi Syaibah 6011, dan dishahihkan al-Albani)*
Hal ini juga dikuatkan dengan keterangan sahabat, dari Atha’ bahwa Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Abu said, dan Ibnu Umar mengatakan:
ﻟَﺎ ﻳَﺘَﻄَﻮَّﻉُ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺘَﺤَﻮَّﻝَ ﻣِﻦْ ﻣَﻜَﺎﻧِﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺻَﻠَّﻰ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟْﻔَﺮِﻳﻀَﺔَ
“Hendaknya tidak melakukan shalat sunah, sampai berpindah dari tempat yang digunakan untuk shalat wajib.”
*(HR. Ibnu Abi Syaibah 6012)*
An-Nawawi mengatakan:
ﻗﺎﻝ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﺮﺟﻊ ﺇﻟﻰ ﺑﻴﺘﻪ ﻭﺃﺭﺍﺩ ﺍﻟﺘﻨﻔﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﺃﻥ ﻳﻨﺘﻘﻞ ﻋﻦ ﻣﻮﺿﻌﻪ ﻗﻠﻴﻼً ﻟﺘﻜﺜﻴﺮ ﻣﻮﺍﺿﻊ ﺳﺠﻮﺩﻩ ، ﻫﻜﺬﺍ ﻋﻠﻠﻪ ﺍﻟﺒﻐﻮﻱ ﻭﻏﻴﺮﻩ ، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﻨﺘﻘﻞ ﺇﻟﻰ ﻣﻮﺿﻊ ﺁﺧﺮ ﻓﻴﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻳﻔﺼﻞ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻔﺮﻳﻀﺔ ﻭﺍﻟﻨﺎﻓﻠﺔ ﺑﻜﻼﻡ ﺇﻧﺴﺎﻥ
“Ulama madzhab kami mengatakan, jika seseorang tidak langsung pulang ke rumahnya setelah shalat wajib, dan ingin shalat sunah di masjid maka dianjurkan untuk bergeser sedikit dari tempat shalatnya, agar memperbanyak tempat sujudnya.
Demikian alasan yang disampaikan Al-Baghawi dan yang lainnya.
Jika dia tidak berpindah dari tempatnya maka hendaknya antara shalat wajib dan shalat sunah dia pisah dengan pembicaraan.”
*(al-Majmu’, 3:491)*
Allahu a’lam
TAHAJUDCALL*
ﺍﻟﺴَّﻼَﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻭَﺭَﺣْﻤَﺔُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺑَﺮَﻛَﺎﺗُﻪُ .
ﺑِﺴْـﻢِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢ
*BERGESER DARI TEMPAT SHOLAT WAJIB UNTUK SHOLAT SUNNAH*
*Pertama, Allah berfirman tentang Firaun dan kaumnya yang dibinasakan*,
ﻓَﻤَﺎ ﺑَﻜَﺖْ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢُ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀُ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽُ ﻭَﻣَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻣُﻨْﻈَﺮِﻳﻦَ
“Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi tangguh.”
*(QS. Ad-Dukhan: 29)*
*Ibnu Abbas* menafsirkan bahwa ketika seorang mukmin meninggal dunia, maka bumi yang dulu pernah dijadikan sebagai tempat ibadah, menangisinya.
Langit yang dulu dilalui untuk naiknya amal yang dia lakukan, juga menangisinya.
Semantara kaumnya Firaun, karena mereka tidak memiliki amal saleh, dan tidak ada amalnya yang naik ke langit, bumi dan langit tidak menangisinya karena merasa kehilangan darinya.
*(Tafsir Ibn Katsir, 7:254)*
ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﺗُﺤَﺪِّﺙُ ﺃَﺧْﺒَﺎﺭَﻫَﺎ
“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”
*(QS. Az-Zalzalah: 4)*
*Sebagaimana yang diisyaratkan oleh asy-Syaukani dalam Nailul Authar*
Beliau menyatakan:
ﻭﺍﻟﻌﻠﺔ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺗﻜﺜﻴﺮ ﻣﻮﺍﺿﻊ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭﺍﻟﺒﻐﻮﻱ ﻷﻥ ﻣﻮﺍﺿﻊ ﺍﻟﺴﺠﻮﺩ ﺗﺸﻬﺪ ﻟﻪ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ( ﻳﻮﻣﺌﺬ ﺗﺤﺪﺙ ﺃﺧﺒﺎﺭﻫﺎ ) ﺃﻱ ﺗﺨﺒﺮ ﺑﻤﺎ ﻋﻤﻞ ﻋﻠﻴﻬﺎ
*Alasan dianjurkannya pindah tempat ketika shalat sunah adalah memperbanyak tempat pelaksanaan ibadah*
Sebagaimana yang dinyatakan oleh *Bukhari dan al-Baghawi*
Karena tempat yang digunakan untuk sujud, akan menjadi saksi baginya, sebagaimana Allah berfirman,
ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﺗُﺤَﺪِّﺙُ ﺃَﺧْﺒَﺎﺭَﻫَﺎ
“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”
Maksudnya adalah mengabarkan semua amalan yang dilakukan di atas bumi. *(Nailul Authar, 3:235)*
*Kedua, hadis dari Nafi bin Jubair*, bahwa beliau pernah shalat jumat bersama Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma.
Setelah salam, Nafi bin Jubair langsung melaksanakan shalat sunah.
Setelah selesai shalat, Muawiyah mengingatkan:
ﻟَﺎ ﺗَﻌُﺪْ ﻟِﻤَﺎ ﺻَﻨَﻌْﺖَ، ﺇِﺫَﺍ ﺻَﻠَّﻴْﺖَ ﺍﻟْﺠُﻤُﻌَﺔَ، ﻓَﻠَﺎ ﺗَﺼِﻠْﻬَﺎ ﺑِﺼَﻠَﺎﺓٍ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﻜَﻠَّﻢَ، ﺃَﻭْ ﺗَﺨْﺮُﺝَ، ﻓَﺈِﻥَّ ﻧَﺒِﻲَّ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﻣَﺮَ ﺑِﺬَﻟِﻚَ، ﺃَﻥْ « ﻟَﺎ ﺗُﻮﺻَﻞَ ﺻَﻠَﺎﺓٌ ﺑِﺼَﻠَﺎﺓٍ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺘَﻜَﻠَّﻢَ ﺃَﻭْ ﻳَﺨْﺮُﺝَ »
“Jangan kau ulangi perbuatan tadi.
Jika kamu selesai shalat Jumat, jangan disambung dengan shalat yang lainnya, sampai berbicara atau keluar masjid. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan hal itu.
Beliau bersabda:
*Jangan kalian sambung shalat wajib dengan shalat sunah, sampai kalian bicara atau keluar*.”
*(HR. Muslim 883, Abu Daud 1129)*
*Termasuk cakupan makna bicara dalam hadis ini adalah berdzikir setelah shalat*.
*Ketiga, hadis dari Abu Hurairah* radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ﺃَﻳَﻌْﺠِﺰُ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻘَﺪَّﻡَ، ﺃَﻭْ ﻳَﺘَﺄَﺧَّﺮَ، ﺃَﻭْ ﻋَﻦْ ﻳَﻤِﻴﻨِﻪِ، ﺃَﻭْ ﻋَﻦْ ﺷِﻤَﺎﻟِﻪِ ﻓِﻲ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ، ﻳَﻌْﻨِﻲ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴُّﺒْﺤَﺔِ
“Apakah kalian kesulitan untuk maju atau mundur, atau geser ke kanan atau ke kiri ketika shalat.” Maksud beliau: “shalat sunah”.
*(HR. Abu Daud 1006, Ibn Majah 1427, Ibn Abi Syaibah 6011, dan dishahihkan al-Albani)*
Hal ini juga dikuatkan dengan keterangan sahabat, dari Atha’ bahwa Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Abu said, dan Ibnu Umar mengatakan:
ﻟَﺎ ﻳَﺘَﻄَﻮَّﻉُ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺘَﺤَﻮَّﻝَ ﻣِﻦْ ﻣَﻜَﺎﻧِﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺻَﻠَّﻰ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟْﻔَﺮِﻳﻀَﺔَ
“Hendaknya tidak melakukan shalat sunah, sampai berpindah dari tempat yang digunakan untuk shalat wajib.”
*(HR. Ibnu Abi Syaibah 6012)*
An-Nawawi mengatakan:
ﻗﺎﻝ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﺮﺟﻊ ﺇﻟﻰ ﺑﻴﺘﻪ ﻭﺃﺭﺍﺩ ﺍﻟﺘﻨﻔﻞ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﺃﻥ ﻳﻨﺘﻘﻞ ﻋﻦ ﻣﻮﺿﻌﻪ ﻗﻠﻴﻼً ﻟﺘﻜﺜﻴﺮ ﻣﻮﺍﺿﻊ ﺳﺠﻮﺩﻩ ، ﻫﻜﺬﺍ ﻋﻠﻠﻪ ﺍﻟﺒﻐﻮﻱ ﻭﻏﻴﺮﻩ ، ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﻨﺘﻘﻞ ﺇﻟﻰ ﻣﻮﺿﻊ ﺁﺧﺮ ﻓﻴﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻳﻔﺼﻞ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻔﺮﻳﻀﺔ ﻭﺍﻟﻨﺎﻓﻠﺔ ﺑﻜﻼﻡ ﺇﻧﺴﺎﻥ
“Ulama madzhab kami mengatakan, jika seseorang tidak langsung pulang ke rumahnya setelah shalat wajib, dan ingin shalat sunah di masjid maka dianjurkan untuk bergeser sedikit dari tempat shalatnya, agar memperbanyak tempat sujudnya.
Demikian alasan yang disampaikan Al-Baghawi dan yang lainnya.
Jika dia tidak berpindah dari tempatnya maka hendaknya antara shalat wajib dan shalat sunah dia pisah dengan pembicaraan.”
*(al-Majmu’, 3:491)*
Allahu a’lam
Komentar
Posting Komentar